Halo!

SELAMAT DATANG! WELCOME! 

Well, Selamat datang di blog gue yang baru. ya, ini blog baru, yang lamanya udah gue delete. kenapa? soalnya ternyata tiga perempat isi blog itu curhatan gue semua. — meskipun blog ini juga bakalan isinya curhatan — tapi itu udah berantakan banget. dan males banget beresinnya, jadi pada akhirnya gue memutuskan untuk membuat blog ini. ada beberapa post yang emang sengaja dipindahin dari blog lama kesini. soalnya post itu mempunyai arti tersendiri /halah/

This Blog contain:

  • Lirik lagu, karena gue cinta banget sama musik. gue bakalan ngepost lirik lagu yang mewakilkan perasaan gue saat itu. karena rata-rata sebuah lagu itu memancarkan(?) perasaan seseorang. entah dari liriknya atau musiknya. biasanya yang gue post itu lirik lagu entah Jepang, Korea atau English. tergantung mood.
  • Stories, gue suka banget ngayal dan bikin cerita. dan biasanya gue nulis potongan cerita di kertas binder. daripada sayang ntar kebuang gitu aja mending gue tulis ulang disini. tapi berhubung gue sangat sibuk, gue gak janji akan sering nulis cerita.
  • Notes, karena gue suka banget mikir lalu nyusun kata-kata. maksudnya, mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata. mungkin ini bisa juga disebut curhatan, gue tipe-tipe orang pemikir.

Things You have to do:

  1. THINK first before you decide to read my posts, because it may contain somethings you don’t like
  2. Be careful of what you read.
  3. You can leave a comment ONLY IN STORY POST.

Just The Two of Us

Aku membuka pintu apartemenku setelah dengan hati-hati menekan beberapa digit angka yang sering dibilang sebagai pin. Aku masuk sambil membawa satu buah kantung plastik berisi bahan makanan sebagai persediaan untuk satu minggu kedepan, beberapa detik kemudian seorang laki-laki masuk membawa dua buah kantung plastik dengan isi yang sama namun ditambah beberapa snack.
Aku menaruh kantung plastik tersebut diatas meja dapur dan kemudian langsung mengeluarkan beberapa bahan makanan kemudian memisahkannya, pergerakanku pun diikuti oleh laki-laki tersebut sampai akhirnya kami berdua secara tidak sadar membagi tugas masing-masing.
“So, what are we going to do now?”
“Aku bawa film baru, action semi thriller gitu.”
“Ada plot twistnya ngga?”
“Ya mana aku tahu, kan aku juga belum nonton.”
“Siapa tahu kamu udah baca spoilernya. Kamu mau dibikinin sesuatu?”
“Nope, kita udah beli banyak banget snack sama minuman dingin, kayaknya itu juga kebanyakan deh.”
“Okay, kamu pilih beberapa snacknya aja dulu, sisanya taruh di kulkas.” Aku menaruh beberapa bahan makanan yang tersisa ke dalam kulkas kemudian beranjak ke arah kamar untuk mengambil dua buah bantal dan selimut.
saat keluar dari kamar aku melihat beberapa snack dan minuman dingin sudah tertata di atas meja sementara Gilang, laki-laki yang sedang bersamaku dari tadi, sedang berkutat dengan DVD playerku di depan televisi.
Aku menaruh dua buah bantal menyandar ke sofa diatas karpet beserta selimut untuk kita berdua, kebetulan malam ini udara di luar sedang berada di derajat ke 10 sehingga akan terasa sangat amat dingin apabila tidak memakai selimut bahkan di dalam rumah sekalipun.
“Dvd playernya bisa?”
“Iya, sebentar lagi, just take a sit.”
Aku mengambil posisi di bawah selimut sambal memperhatikan Gilang mengutak-atik DVD player sampai akhirnya televisiku menyala menampilkan adegan awal dalam film tersebut. Gilang kemudian buru-buru duduk di sampingku sambil mengambil posisi.
“..here” gilang menurunkan sedikit bahunya untuk aku menyandarkan kepalaku, aku melingkarkan tanganku di atas perutnya untuk mencari posisi nyaman, dan kami berdua pun mulai menonton film dengan serius. Ini adalah hal yang paling kusukai, melakukan hal yang sangat sederhana tetapi menyenangkan, just the two of us.

A tiny regret

Waktu terasa berhenti setiap kali aku melihatmu. Terlalu peka dengan adanya kehadiranmu membuat tubuhku mengeluarkan reaksi yang berlebih. Lucu rasanya ketika aku merasa kau ada disekitarku, aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darimu. Mata elangmu, hidungmu serta bibirmu yang melengkungkan senyum. Senyuman yang dapat membuatku secara tanpa sadar ikut tersenyum. Segala rasa seperti kupu-kupu yang berterbangan di dalam perutku sehingga membuatku berfikir bahwa aku benar-benar jatuh hati kepadamu.

Continue reading

A Myth (1)

A Myth-Part one

Ada sebuah mitos yang menjadi bahan pembicaraan hangat di departemen ini. mitos yang sudah lama beredar. Sebuah mitos yang memang bersangkutan dengan sebuah ruangan di kampus departemen seni musik ini. sebuah mitos tentang belahan jiwa dan cinta sejatimu. Konon katanya ketika kamu sedang berdiri sendiri di depan ruang musik dan saat itu sedang hujan, kemudian kamu mendengar denting piano itu dimainkan, orang yang pertama kali menghampirimu merupakan cinta sejatimu.

Namun kau harus berhati-hati, ketika kau mulai mendengar denting piano tersebut jangan pernah menghampiri lelaki yang kau suka, dengan itulah kau tidak akan pernah bertemu dengan cinta sejatimu. Perlu kau ketahui bahwa pertama kali aku mendengar mitos ini, aku tertawa terbahak-bahak. Aku benar-benar menganggap semua yang dikatakan oleh teman yang duduk di sebelahku ini adalah lelucon biasa. Karena kupikir semua kampus memiliki mitosnya sendiri. Tetapi baru kali ini mitos tentang cinta sejati dan soulmate? Yang benar saja.

Tapi tidak setelah kondisi saat ini dimana aku sedang benar-benar berdiri di depan ruang piano untuk menunggu perempuan yang menceritakan mitos kampus ini—Soo Mi. Aku tengah menghubunginya via telepon genggam ketika tiba-tiba aku mendengar suara denting piano berbunyi mengalunkan sebuah lagu yang kukenal, Fur Elise.

Continue reading

Rumah Nomor 11

Rumah Nomor 11

 

Lagi-lagi jam kosong. Lagi-lagi kelas ramai dengan gosip tentang rumah nomor sebelas itu. Berhubung sekolah ini memang letaknya di dalam kompleks perumahan, mau tidak mau murid-murid sekolah ini harus melewati rumah nomor satu sampai lima belas. Ada jalan lain, hanya saja terlalu jauh dari jalan raya. Kali ini Rana sedang bercerita tentang pengalamannya ketika pulang ba’da maghrib dari sekolah.

“Perasaanku memang sudah tidak enak semenjak keluar dari gerbang sekolah dan menatap ke jalan itu,” ucapnya pelan.

Continue reading