Featured

Welcome to the chapters!

Hi! Hello!

Aku selalu berpikir untuk mengubah pinned post-ku yang lama karena aku membuat post tersebut saat aku membuat blog ini dan itu sudah beberapa tahun yang lalu lol

Selamat datang di blog pribadiku yang sudah kubuat menjadi publik!

Aku selalu suka menulis maka dari itu aku ingin meningkatkan kemampuan menulisku dengan membuat blog ini. Aku harap tulisanku benar-benar berkembang seiring berjalannya waktu. Meskipun aku tahu aku membuat post enam bulan sekali atau bahkan satu tahun sekali.

Pada awalnya konsep blog ku adalah tulisan mengenai random things seperti puisi ataupun sajak yang tiba-tiba pop-up di kepalaku, lirik lagu yang menurutku sangat menyentuh serta cerita-cerita pendek yang kubuat berdasarkan inspirasi yang datang setiap waktu tetapi tidak pernah ada waktu untuk menuliskannya.
Kemudian dunia kuliah menerpaku lalu akupun sibuk akan hal-hal yang tidak penting, dan aku mulai sangat jarang menulis sehingga banyak sekali cerita pendek yang membusuk di laptopku.

Lalu aku berfikir, kenapa aku tidak membuat artikel saja seperti aku membuat essay dulu?

Kemudian aku baru menyadari artikel dan essay itu adalah hal yang berbeda.

Maka dari itu, mulai saat ini aku akan membuat post kurang lebih berisi puisi ataupun sajak, cerita pendek, lalu mungkin aku akan melanjutkan artikelnya.

Aku selalu mempromosikan tulisanku di twitter membuat aku yang memiliki konsep anonymous menjadi tidak begitu anonymous sehingga kalian bebas berkomentar di post bagian manapun.

Selamat menjelajahi halaman demi halaman dalam chapter blog-ku!

 

regards,

Selene

Advertisements

Bulir Embun Part 1

Sebuah keputusan yang sangat impulsif kalau dipikir-pikir. Entah sebuah anugerah atau bukan sifat Anna yang tidak pernah berpikir panjang, dia cenderung memutuskan tanpa ba-bi-bu. Bahkan keputusan besar seperti tiba-tiba pesan tiket kereta ke Jogja untuk keberangkatan esok hari. Ia benar-benar merasa sumpek dengan segala rutinitas yang ada. padahal sebenarnya ia sedang tidak ada kegiatan apapun. Ada, tapi tidak ingin dikerjakan. Batinnya pelan. Ia tengah berada di perjalanan pulang dari kampus setelah bimbingan dengan dosennya. Jalanan macet membuat angkutan kota yang ditumpanginya kerap kali berhenti tersendat-sendat. Layaknya tugas akhir yang ia kerjakan, tersendat, pikirnya miris.

Tangannya memegang ponsel pintar, mengusap layarnya secara acak membuka aplikasi satu persatu, tidak ada satu pesan yang masuk. Ia bukan orang yang sosialis, juga bukan seorang anti sosial. Perempuan dengan kulit langsat ini lebih suka menyaring lingkaran pertemanannya dan membuatnya tetap kecil. Repot kalau memiliki teman banyak, nanti diajak buka bersama setiap hari di bulan puasa, prinsipnya. Pengemudi angkutan umum yang sedang ia tumpangi tiba-tiba menginjak pedal rem membuat Anna reflek memajukan tubuhnya, ia meminta maaf kepada ibu-ibu yang tidak sengaja menjadi sandarannya. Kembali membenahi duduknya, Anna membawa beberapa anak rambut hitamnya yang ikut berantakan juga.

Manik matanya kembali pada layar ponsel pintarnya, tidak sengaja ia memencet aplikasi KAI. Oalah kenapa kepencet ya apa ini sebuah pertanda, pikirnya lalu menonaktifkan layar ponselnya. Ia sebentar lagi sampai pada tujuannya.

.

.

Tidak disangka kalau ia benar-benar memesan tiket kereta malam itu juga, beruntung masih ada tiket tersisa. Kereta menuju kota jogja berangkat pukul 19:30 dari kota parahyangan. Entah apa yang dipikirkannya tapi sekarang ia benar-benar excited. Berbekal dengan satu buah tas ransel dan beberapa potong pakaian tak lupa dompet dan kamera, Anna benar-benar pergi dari rumah kostnya selepas maghrib.

Sesampainya di kereta, Anna langsung mencetak tiket kereta api miliknya. Difoto tiket itu olehnya untuk diunggah di kamar obrolan berisi kakak dan adiknya.

Cabs ke jogja dulu nder.

Tulisnya pada lampiran foto tiket kereta miliknya tersebut. Ia menaruh ponselnya di saku celana lalu melangkahkan kakinya ke mini market untuk membeli roti dan air mineral yang cukup. Meski ia tahu ada gerbong kantin tapi ia malas untuk beranjak dari kursinya. Terlebih, kursi yang ia pilih dekat dengan jendela sehingga ia harus meminta izin kepada orang yang akan duduk di sampingnya jika ia mau keluar. Ngomong-ngomong, tiba-tiba saja Anna kepikiran siapa yang akan duduk di sampingnya nanti di kereta. Berhubung waktu tempuh perjalanan kereta memakan hampir delapan jam, malas sekali kalau ia harus disandingkan dengan orang yang bau badan, atau ibu-ibu yang suka sekali mengajak ngobrol. Ah itu belum seberapa dibandingkan dengan ibu-ibu dengan balita super rewel yang tidak bisa diam dan selalu menangis. Anna menggelengkan kepalanya ngeri, ia langsung tersadar dan membawa roti dan air mineral ke meja kasir untuk dibayar.

Sejauh ini Anna merasa baik-baik saja. Ia sempat panik sedikit ketika akan berangkat karena semua ini ide impulsifnya dan dia berangkat tanpa rencana apapun. Untuk penginapan saja ia masih bingung harus kemana, bukan, coret itu, bahkan ia belum memutuskan untuk menginap atau langsung balik lagi ke bandung keesokan malamnya. Mengingat bahwa ia akan sampai di jogja pagi buta.

Gimana nanti ajalah, batinnya.

Ia lalu masuk ke dalam gerbong kereta setelah bertanya pada petugas cantik yang sedang berjaga. Berkali-kali ia melihat nomor gerbong, memastikan kalau ia berjalan ke arah yang benar. Setelah mendapatkan kursi yang sesuai dengan tiketnya, Anna menaruh ranselnya di lantai kereta, menyandarkan ke bangku depannya lalu duduk manis. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku celana lalu mencari-cari ear-phone di sakunya. Tidak ada, ia malah menemukan kunci kamar kost yang lalu ia pikir harus ditaruh ditempat yang tidak sering ia buka. Ia menarik ransel dihadapannya untuk menaruh kunci tersebut dan kembali merogoh-rogoh ruang didalamnya mencari ear-phone yang akan menemani perjalanannya.

Kereta sudah mulai berjalan. Anna menyampirkan tudung jaket ke kepalanya lalu mulai memasang ear-phone di telinganya. Memutar lagu di playlist favoritnya sebelum membalas pesan-pesan yang muncul.

Ingga (Kakak): geblek beneran ke jogja, impulsifnya kumat

Andriani (adek): mantul jangan lupa leholeh

Ingga (Kakak): dah bilang nyokap belom lu heh @you

Andriani (adek): belom dah yakin

Ingga (kakak): serius belom bilang? Gila ntar lu dimarahin anjir

Andriani (adek): kayak gak tau aja kalo udah impulsif mana mikir sih dia

Ingga (kakak): ya tapi ini ke jogja gitu lho????

berisik banget dah ah, jangan bilang nyokap gua ke jogja sendirian. Bisa ngamuk.

Jangan cepu lo berdua!!!

Ingga (kakak): hadeeeh pr banget dah

Andriani (adek): gak tau aq blur

 

Anna menutup ruang percakapannya dengan saudarinya, ia lalu membuka aplikasi sosial media untuk mencari ada kabar apa hari ini. Fokus membaca cuitan orang-orang di sosial media, Anna tidak sadar ada seseorang yang tengah menaruh barang di kabin kereta. Ia baru sadar ketika orang tersebut melemparkan tubuhnya di samping Anna membuat perempuan berambut pendek tersebut membenahi duduknya yang semula serampangan. Ia tidak begitu memperhatikan siapa yang duduk di sampingnya. Beberapa kali naik kereta, Anna hampir tidak pernah bertemu dengan orang yang dikenal di satu gerbong kereta, apalagi duduk bersebalahan.

Ponsel mulai membosankan, lagu yang diputar pun mengalunkan melodi lullaby. Mata Anna mulai berat, perlahan ia pun beringsut ke alam mimpi.

.

.

Jeduk!

Kepalanya terbentuk sesuatu yang keras. Anna terbangun dari alam bawah sadarnya lalu mengerang kesakitan. Ia berhenti ketika mendengar suara erangan yang sama namun lebih berat dari suaranya. Anna membuka matanya lalu mendapati sepasang mata tengah menatapnya tajam. Bentar, kok kayak kenal dah.

“ARES?!” ucap Anna tanpa sadar dengan nada tinggi.

“Apa?” jawab laki-laki itu sengit, ia masih mengusap pucuk kepalanya. Oalah jadi jidat gue kepentok kepala dia.

“Lo ngapain disini?” tanya Anna ketus. Ia tidak suka lelaki itu. Coret. Ia tidak pernah suka orang lain selain teman-temannya.

“Duduk.” Jawabnya lempeng. Seakang pertanyaan yang diutarakan oleh Anna merupakan pertanyaan bodoh.

Anna memutar bola matanya jengah, “Ya maksudnya ngapain lo duduk disini, burhaaan?!”

“Ya menurut lo? Ini kursi gue? Gue juga mau ke jogja? Lo pikir ini gerbong kereta punya bapak lo?” Ares membenahi duduknya dan kembali menutup matanya untuk tidur selagi menarik selimut yang diberikan petugas kereta sampai dagu.

Anna menghela napas panjang. Oke, ini semesta kejam banget apa sama gua kenapa dari sekian tiga juta penduduk kota bandung dan sekian ratus orang yang mau ke jogja hari ini gua harus sebangku sama Ares.

Perlahan, manik matanya menangkap selimut dengan warna sama dengan yang sedang Ares gunakan tengah tersampir di tubuhnya. Anna kembali menoleh ke arah Ares yang terlihat sudah mulai masuk ke alam mimpi lagi. Baru juga ia membuka mulutnya, berkenan untuk bertanya, Ares sudah memotongnya duluan, “Gua yang nyampirin, lo kebo banget sih tadi uda tidur sebelum petugasnya dateng.” Laki-laki berrambut ikal tersebut berkata dengan gamblang.

Anna menggigit ujung bibirnya pelan, dia baik, batinnya. Salahnya yang selalu skeptis terlebih dahulu ketika bertemu orang baru. Laki-laki yang tengah duduk di sampingnya juga jadi korban keskeptisannya. Entahlah, dia tidak terlalu baik dalam masalah sosial, tidak terlalu peduli juga. Tetapi setidak peduli apapun Anna, ia masih tahu sopan santun.

“Makasih.” Ucap perempuan itu lalu kembali memejamkan matanya. Berharap Ares tidak kembali membuka matanya dan melihat rona pipi memerah milik anna.

Sisa enam jam perjalanan untuk sampai ke jogja, lalu akan bagaimana ya kira-kira?

 

 

p.s. dilanjut jangan ya?

Pagi yang biasa

Matahari sembunyi-sembunyi muncul dibalik tirai. ia perlahan masuk dan sinarnya memenuhi ruangan penuh dengan beberapa perabot khusus seperti lemari baju, meja nakas, dan tempat tidur. Menusuk-nusuk kelopak mata seseorang yang tengah terlelap pulas dibalik selimut yang lama-lama menjadi tidak nyaman. Memaksa alam bawah sadarnya untuk akhirnya membuka dua kelopak mata.

Mengerjapkannya berkali-kali sebelum akhirnya matanya terbiasa dengan paparan sinar, perempuan itu kemudian menyingkap selimut yang melilit tubuhnya. Ia duduk di pinggir kasur sembari merapikan rambutnya. Rambut panjang hitam yang selalu berubah menjadi super kusut setiap kali ia bangun dari tidur.  Perempuan itu mengangkat tangannya tinggi-tinggi, meregangkan badan yang terasa kaku sehabis diam selama delapan jam penuh. Setelahnya ia beranjak ke kamar mandi dan bersiap.

Hari ini bukanlah hari yang spesial, ia tidak memiliki jadwal sama sekali dan mungkin tidak ada yang mengajaknya untuk bertemu hari ini. Perempuan itu mengambil ponselnya yang tergeletak diam di atas meja kerja. Bergerak langsung ke area dapur untuk mengambil beberapa potong roti dan selai stoberi favoritnya. Ia memasukkan roti tersebut ke dalam mesin pemanggang kemudian menyetelnya. Kembali membawa tubuhnya ke hadapan lemari pendingin untuk mengambil jus jeruk kotakan lalu menuangkan di gelas bening yang telah diambil sebelumnya. Semua kegiatan tersebut ia lakukan dengan sangat mulus sembari mengecek beberapa aplikasi yang ada di ponselnya.

“hm, tidak ada yang menarik.” perempuan itu meneguk jus jeruk dari gelas. Belum sempat ia menaruh kotak jus kembali ke dalam lemari pendingin, mesin pemanggang otomatis berbunyi membuatnya buru-buru mengambil piring dan menaruh potongan roti tersebut. Pelan-pelan ia oleskan selai stoberi di salah satu sisi roti lalu menyantapnya selagi masih panas.

Perempuan itu menghabiskan pagi yang lumayan cerah dengan menyantap habis sarapan yang ia buat sendiri sambil terus menerus mengecek ponselnya. Matanya tak pernah lepas dari layar bersamaan dengan jemarinya yang kerap menyentuh dan menggesernya. Belum sepeunuhnya habis, ia melihat sebuah poster perayaan yang akan diselenggarakan hari ini. Perempuan itu mengetuk pelan layar ponselnya untuk melihat poster lebih jelas, sudut bibirnya tertarik. “sepertinya ini menarik.” ucapnya.

Buru-buru ia menghabiskan sisa potongan roti. Ia lalu menaruh piring dan gelas kosong di atas wadah cuci piring sebelum akhirnya membereskan meja dapur, kembali menaruh barang-barang yang ia ambil ke tempat semula.

Perempuan itu membawa tubuhnya kembali ke kamar, membuka tirai dan jendela yang sempat ia lupakan lantas berjalan ke depan lemari baju. Bunyi suara kriek nyaring terdengar di penjuru ruangan seraya ia membuka daun pintu lemari tersebut. Jari jemarinya bergerak menyentuh baju-baju yang tertata rapi. Ia mengambil celana denim dengan model yang sobek di bagian lutut dan kaus putih berlengan pendek yang jatuh kebesaran di tubuhnya.

Sebelum benar-benar pergi, ia menyapukan bedak dan lipstik merah yang selalu menjadi andalan untuk menutupi bibir pucatnya. Ia mengambil tas kecil berisikan dompet dan ponsel berwarna putih dan melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Sepatu converse hitam menjadi pilihan ketika ia akan berjalan santai, sepertinya perayaan yang akan ia datangi bukanlah acara resmi. Setelah mengikat tali sepatunya dan memastikan ikatannya cukup kencang, perempuan itu membuka pintu rumah lalu menghilang dibaliknya. Terdengar suara gemericik kunci dan bunyi klik beriringan dengan langkah kaki menandakan kalau perempuan itu benar-benar pergi.

DI hari yang cerah seperti ini memang saat yang tepat untuknya keluar, ini pun saat yang tepat bagiku.

Titik Balik

Aku lelah.

Aku merasa bahwa delapan jam tidur tidak cukup untuk mengistirahatkan tubuhku. Entah bagaimana, aku selalu terbangun dengan keadaan berkeringat, seolah-olah aku baru saja memenangkan pertandingan lari marathon sejauh ratusan kilometer. Entah bagaimana, setiap kali aku membuka mataku di pagi hari, yang terlintas di kepalaku ialah beban. Satu hari lagi melaksanakan rutinitas monoton yang tidak pernah berubah secara signifikan, sedikit demi sedikit beban tersebut bertumpuk yang kemudian meninggi dan bersarang di belakang pundakku. Belakangan aku sudah mencoba berbagai cara untuk menghilangkan perasaan lelah. Sesekali aku pergi, membawa diriku lari sejenak dari rutinitas yang mencekik. Membiarkan kakiku membawaku ke tempat-tempat yang mungkin saja bisa menghalau pikiran-pikiran akan beban.

Continue reading “Titik Balik”

Dua Tempat

Aku ingat waktu itu kita duduk berdua di salah satu kursi taman, kau dengan buku di tanganmu dan aku yang memerhatikan orang yang berlalu lalang. Kita terhubung dengan kabel dari hands free yang masing-masing terpasang di salah satu telinga, kau di telinga kananmu dan aku di telinga kiriku. Jariku bergerak memutar beberapa lagu yang mungkin akan kau nikmati, yang mungkin cocok dengan buku apapun yang tengah kau baca saat itu. Pernah kau membaca buku romansa remaja, menceritakan tentang perempuan naif yang jatuh cinta pada laki-laki tidak bertanggung jawab. Kuputar lagu Let’s Play in Love milik Diana Krall, dengan sinar matahari yang tengah menerpa taman membuat segalanya berubah menjadi warna oranye kekuningan. Pernah juga kau tengah membaca buku fantasi, menceritakan seorang laki-laki yang terlahir tanpa ayah dan ternyata ia merupakan ksatria putih yang dapat menyelamatkan dunia yang tengah hancur. Kuputar lagu Tokyo Inn miliki band indie Hyukoh.

Ekspresimu setiap kali kuputar lagu yang berbeda, adalah satu satunya hal yang kunantikan. Senyum simpul yang kau pasang, terkadang kau kerutkan dahimu, Continue reading “Dua Tempat”

Rumah

Kata orang hidup merupakan suatu perjalanan. Perjalanan tumbuh dari kecil hingga besar, mulai dari merangkak hingga bisa melompat. Perjalanan menuju suatu kedewasaan, perubahan yang besar dari yang awalnya hanya bisa meminta ini-itu menjadi memberikan segalanya. Perjalanan yang sepenuhnya diisi dengan pelajaran yang dapat datang dari berbagai sumber, entah formal, namun kebanyakan non formal. Bisa jadi pertemuan dengan orang tidak terduga, berawal dari obrolan basa-basi di kereta yang berujung pada pembicaraan akan hal-hal menyangkut rasa syukur. Bisa juga sebuah pengalaman yang diceritakan oleh teman ataupun yang kita alami dengan sendirinya, entah itu pengalaman baik maupun buruk. Semuanya merupakan sebuah pelajaran. Continue reading “Rumah”