Featured

Welcome to the chapters!

Hi! Hello!

Aku selalu berpikir untuk mengubah pinned post-ku yang lama karena aku membuat post tersebut saat aku membuat blog ini dan itu sudah beberapa tahun yang lalu lol

Selamat datang di blog pribadiku yang sudah kubuat menjadi publik!

Aku selalu suka menulis maka dari itu aku ingin meningkatkan kemampuan menulisku dengan membuat blog ini. Aku harap tulisanku benar-benar berkembang seiring berjalannya waktu. Meskipun aku tahu aku membuat post enam bulan sekali atau bahkan satu tahun sekali.

Pada awalnya konsep blog ku adalah tulisan mengenai random things seperti puisi ataupun sajak yang tiba-tiba pop-up di kepalaku, lirik lagu yang menurutku sangat menyentuh serta cerita-cerita pendek yang kubuat berdasarkan inspirasi yang datang setiap waktu tetapi tidak pernah ada waktu untuk menuliskannya.
Kemudian dunia kuliah menerpaku lalu akupun sibuk akan hal-hal yang tidak penting, dan aku mulai sangat jarang menulis sehingga banyak sekali cerita pendek yang membusuk di laptopku.

Lalu aku berfikir, kenapa aku tidak membuat artikel saja seperti aku membuat essay dulu?

Kemudian aku baru menyadari artikel dan essay itu adalah hal yang berbeda.

Maka dari itu, mulai saat ini aku akan membuat post kurang lebih berisi puisi ataupun sajak, cerita pendek, lalu mungkin aku akan melanjutkan artikelnya.

Aku selalu mempromosikan tulisanku di twitter membuat aku yang memiliki konsep anonymous menjadi tidak begitu anonymous sehingga kalian bebas berkomentar di post bagian manapun.

Selamat menjelajahi halaman demi halaman dalam chapter blog-ku!

 

regards,

Selene

Advertisements

Destiny

Destiny.

I always curious how destiny works and meddling with our life. It’s not that I don’t believe in destiny. I just don’t think that everything that happened was never meant to be coincidence, I mean, there’s always a reason behind it. I haven’t had such a moment that just feel like it’s right, like it is destiny.

But maybe, somehow destiny answer the curiosity of mine. Maybe it waits for the perfect timing, for the perfect moment to put it hands and do its magic with the help of coincidence.

Afternoon and it’s raining now. I’m walking under my purple umbrella try to keep my feet dry from the remain water on the ground. Taking step by step slowly, afraid that the clothes that I wear maybe get wet.

I had to make a turn when someone suddenly pop-up in front of me. I look up so I could see the person but that makes our eyes meet.

Electrical stung.

I can tell that he recognize me with the expression that he made. Then he jump into my umbrella, taking the handle from my hand and pose it so the rain won’t catch both of us.

“Glad meet you here,” he said while smiling widely.

I could feel butterflies in my stomach.

“Guess it’s a destiny.” He added and I snort.

“Destiny, yeah?” I ask rhetorically, try to balancing his step without splashing any water with my feet.

“You got a class? What class?” he suddenly change the topic. I couldn’t see his expression since we walking side by side with our shoulder knock to each other

I hum as “Studio class, I can’t skip it although in weather like this I’d prefer to hide under my blanket.”

He responds with a chuckle and then we’re arrived at the lobby. I step on the chair while he stand still under the umbrella. I turn around and make a confuse expression toward him.

Huh?

“You’ve arrived safely so I’m going to take this umbrella now” he said.

“What? You’re not going to class?” I confuse, remembering that I haven’t ask before.

“It’s in the different building, I’ll pick up you later to give this back? What time?”

“Four?” an answer that seems like question

“Thanks.” he prompting a simple smile before he turn around, walking to another building with my umbrella in his hand.

HUH?

 

Selene,

November 2017

Jadi, Kapan terakhir kalian merasa bahagia?

Aku lagi duduk di sebuah restoran cepat saji yang pakai badut sebagai ambassadornya, dan sedang menikmati makananku sambil sesekali ngobrol sama mama, papa, dan kakakku. Sebuah hal yang memang jarang dilakukan karena aku tinggal di luar kota untuk kuliah dan kalaupun memang kita lagi di rumah, jadwal makan kita beda-beda. /sebenarnya karena papa-ku lebih suka makan abis isya dan mamaku jarang makan semenjak tau kalau dia punya gula darah/

Ketika pembicaraan lagi gak ada dan kami lagi sibuk sama pikiran masing-masing, tiba-tiba ada satu keluarga (atau lebih?) datang, diantara mereka ada dua orang anak sepantaran yang berusia sekitar 4 tahunan. Salah satu dari mereka tiba-tiba teriak di pintu masuk, “HORE KITA BISA MAIN PEROSOTAN!” dengan nada super-duper girang kayak itulah satu-satunya hal terpenting di dunia ini.

Teriakannya yang bikin aku menoleh kemudian tersentak akan suatu hal. Aku berpikir kalau dulu aku juga pernah berada di posisi seperti itu. aku juga pernah merasa segirang itu, sesenang itu, sebahagia itu saat diajak makan ke tempat yang punya wahana mainan anak-anak oleh papaku. Meskipun sebenarnya saat itu mereka cuma capek karena abis muter-muter departemen store untuk belanja bulanan.

Hal yang sangat sepele bagi kita yang udah dewasa tapi benar-benar berarti buat anak seusia 3-5 tahun. Hal kecil yang menurut kita, orang ‘dewasa’, tapi bisa membuat anak-anak merasa super bahagia.

Hal lain yang kupikirkan adalah, lalu apa yang bisa bikin ‘orang dewasa’ ini bahagia? uangkah? atau pekerjaan yang bagus? bisa mengerjakan tugas kuliah tepat waktu dengan hasil yang memuaskan? IP setiap semester tinggi? atau lebih tepatnya, APASIH SEBENARNYA YANG BIKIN AKU BAHAGIA AKHIR-AKHIR INI?

okay, aku harus santai.

Sebuah pertanyaan melintas di kepalaku, kapan terakhir aku merasa sebahagia itu? sebahagia saat si anak kecil bisa main perosotan bersama teman (atau sepupunya). Yang aku rasakan, akhir-akhir ini aku selalu murung entah karena tugas gak beres (90% karena aku selalu menundanya), karena teman-temanku nyebelin (90% karena kami sama-sama lagi kesal karena tugas), atau karena aku gak bisa melakukan hal-hal yang kusuka karena aku harus ngerjain tugas yang selalu aku tunda jadi aku gak bisa main.

Aku merasa sangat menyedihkan.

Tapi lagi-lagi, sebenarnya kebahagiaan yang kita rasakan itu bisa kita buat sendiri. misalnya kamu bisa bermalas-malasan di rumah sementara teman-temanmu harus survey untuk tugas karena kamu tidak mengontrak mata kuliah yang mereka kontrak juga merupakan sebuah kebahagiaan.

HAHAHAHA.

Enggak, itu gak baik, bahagia di atas penderitaan orang itu nggak baik.

Maksudku, ayolah kamu pasti mengerti poin yang kumaksud kan, kuncinya ialah bersyukur. setiap hal yang kau punya, atau kau capai pasti ada ‘hikmah’ dibaliknya. semuanya bisa diputarbalikkan menjadi sesuatu yang membahagiakan, asal kita bisa melihat sisi positif dari setiap kejadian yang menimpa kita.

Memang iya, tumbuh dan diberi tanggung jawab yang besar sebagai orang ‘dewasa’ sangat sulit, aku bahkan mau membuang semua tugas-tugas kuliahku dan pulang kerumah. tapi apa betul itu membahagiakan?

Anak kecil yang baru saja kutemui mengajarkanku bahwa merasa bahagia tidak harus dikarenakan hal-hal yang besar, merasa bahagia juga bisa didapat dari hal yang simpel seperti main perosotan dalam kasusnya.

Jadi, kapan terakhir kali kalian merasa bahagia?

 

regards,

Selene.

p.s. tinggalkan komentar jika kamu mau jawab pertanyaanku diatas.

What people called

I fell in love with you, more or less.

Tell me how to stop.

Tell me how to endure.

Tell me how to ignore.

I’ve tried hundreds ways.

I’ve tried thousands times.

It’s not that I don’t like the kind of feeling.

It’s definitely not.

It’s about how major our differences is

About how huge miles that separate us

About how our universe was split between two

I was here

You were there

I was I

You were you

We’re never meant to be, what people called, together as one.

 

Selene,

November 2017

 

Pleasure

I don’t know it’ll be such a pleasure

I don’t know it will be when I first run into it

That I will enjoy it very well

I don’t know that it’ll be such a pleasure

How the thick liquid draining

Comes over one to another and

Making a path over mine

I don’t know that it’ll be such a pleasure

How I grimace feeling the sore

How the pain slowly spread

Step by step on my body

I don’t know that it’ll be such a pleasure

When I can feel my conscious fading

And my vision starting to blur

I can feel peace on my chest

I don’t know it’ll be such a pleasure

Until I turn into transparrent thing

And had to make people

Watching them

To turn into

A haunter

Like me

 

 

 

p.s. HAPPY HALLOWEEN!

Selene,

Oktober 2017

Warm Coffee Epilog

Jamie melangkahkan kakinya dengan ringan di atas pedestrian yang berisi berpuluh-puluh pejalan kaki lainnya. Merasakan bagaimana cahaya matahari di sore hari menerpa wajahnya, hal tersebut selalu menjadi favoritnya. Jamie bisa melihat bunga-bunga tengah bermekaran sebagai pertanda bahwa saat ini sudah memasuki pertengahan musim semi.

Ia dihentikan oleh lampu penyebrang jalan yang berubah menjadi merah. Membiarkan sang pengendara lewat terlebih dahulu setelah sebelumnya menunggu, sama seperti yang tengah Jamie lakukan. Di seberang sana, di kerumunan penyebrang jalan dari arah berlawanan, Jamie dapat melihat figur seorang laki-laki setinggi 180 sentimeter menggunakan kemeja berwarna putih dengan lengan yang digulung. Figur seseorang yang ia kenal betul.

Lelaki itu menangkap mata Jamie, mereka berdua saling bertatapan untuk beberapa detik, saling menyadari keberadaaan satu sama lain. Kemudian sebuah senyum terpatri di wajah mereka berdua, saling melambaikan tangan lalu melebarkan senyum. Mengabaikan kendaraan yang lalu lalang berkali-kali menghalangi wajah masing-masing.

Bunyi lampu penyebrang jalan yang telah berubah menjadi hijau menyadarkan Jamie, membawanya keluar dari dunia yang sebelumnya tengah diciptakan olehnya dan Dean. Jamie melangkahkan kakinya panjang-panjang, ingin lebih cepat sampai ke seberang jalan.

“Sudah kubilang akan kujemput.” Ucap Dean yang langsung mengamit tangan kanan Jamie saat perempuan itu sampai di hadapannya.

Ucapan Dean hanya dibalas dengan gelengan kepala yang disertai senyuman manis, Jamie menarik tangan Dean yang menggenggam tangannya, “Cepat, keburu gelap.”

Mereka berdua sampai ke sebuah tanah lapang yang memiliki beberapa gundukan yang tertata rapi lengkap dengan nisan. Jamie menaruh bunga lili diatas sebuah makam, bunga kesukaan baik Jamie maupun orang yang saat ini tengah berbaring tenang di dalam tanah.

Hi mom, maaf aku terlambat,” Jamie tersenyum, sebuah perasaan campur aduk tiba-tiba datang bergumul di perut Jamie. “apa mom dan Jimmy pergi ke surga bersama?” tanyanya, tanpa sadar air mata telah jatuh melewati pipinya yang memerah.

Dean terdiam disampingnya, menggenggam tangan Jamie dan sedikit meremasnya, seperti menyalurkan separuh energinya pada Jamie. Mereka tengah mengunjungi makam ibunya Jamie, sebuah perlakuan simbolik karena Jamie akhirnya berhasil keluar tanpa disertai trauma.

Jami mengusap pipinya dengan punggung tangannya yang bebas, ia menoleh ke arah Dean dan tersenyum, “Mom, ini Dean, dia yang bantu James belakangan ini.” Jamie kembali menatap makam ibunya.

“Mom, apa kau bertemu Jessie di sana?” Jamie kembali melihat ke arah Dean, seperti meminta persetujuannya, Dean tersenyum, “Dia adiknya Dean, mom, bisakah kau menjaganya? Maksudku, dia masih kecil, mungkin perlu banyak bantuan.” Aku terkekeh, menertawakan pikiranku sendiri.

I’m sorry mom, for leaving you back then.

I know I shouldn’t and I’ve been regretting it for more than a year.

I’m sorry too, for abandoning you, for coming here late.

I love you mom, and I miss you, always.

 

 

Selene,

Oktober 2017