Featured

Welcome to the chapters!

Hi! Hello!

Aku selalu berpikir untuk mengubah pinned post-ku yang lama karena aku membuat post tersebut saat aku membuat blog ini dan itu sudah beberapa tahun yang lalu lol

Selamat datang di blog pribadiku yang sudah kubuat menjadi publik!

Aku selalu suka menulis maka dari itu aku ingin meningkatkan kemampuan menulisku dengan membuat blog ini. Aku harap tulisanku benar-benar berkembang seiring berjalannya waktu. Meskipun aku tahu aku membuat post enam bulan sekali atau bahkan satu tahun sekali.

Pada awalnya konsep blog ku adalah tulisan mengenai random things seperti puisi ataupun sajak yang tiba-tiba pop-up di kepalaku, lirik lagu yang menurutku sangat menyentuh serta cerita-cerita pendek yang kubuat berdasarkan inspirasi yang datang setiap waktu tetapi tidak pernah ada waktu untuk menuliskannya.
Kemudian dunia kuliah menerpaku lalu akupun sibuk akan hal-hal yang tidak penting, dan aku mulai sangat jarang menulis sehingga banyak sekali cerita pendek yang membusuk di laptopku.

Lalu aku berfikir, kenapa aku tidak membuat artikel saja seperti aku membuat essay dulu?

Kemudian aku baru menyadari artikel dan essay itu adalah hal yang berbeda.

Maka dari itu, mulai saat ini aku akan membuat post kurang lebih berisi puisi ataupun sajak, cerita pendek, lalu mungkin aku akan melanjutkan artikelnya.

Aku selalu mempromosikan tulisanku di twitter membuat aku yang memiliki konsep anonymous menjadi tidak begitu anonymous sehingga kalian bebas berkomentar di post bagian manapun.

Selamat menjelajahi halaman demi halaman dalam chapter blog-ku!

 

regards,

Selene

Advertisements

Di Suatu Malam Penuh Bintang

Aku menarik napas dalam-dalam seraya membuka kedua mataku.

Tubuhku secara otomatis menegakkan diri dan paru-paruku memintaku untuk menghirup lebih banyak oksigen sehingga membuatku mau tak mau bernapas cepat-cepat lewat mulut. Perlahan-lahan aku mengatur napasku, membuatku merasa sedikit tenang sehingga kusandarkan punggungku pada kepala ranjang yang dihalangi bantal.

Mimpi itu lagi, mimpi yang sama dimana aku tengah berada di antara air dan tenggelam didalamnya. Mimpi yang terus berulang-ulang sejak hari itu. Di dalamnya aku tidak tahu aku sedang berada dimana, entah di laut, di sungai, atau di danau tempat biasa ayahku memancing ikan pada musim dingin. Tapi satu hal yang pasti, di dalam mimpi itu aku tercekat, kehabisan oksigen dan aku tidak tahu bagaimana caranya untuk berenang ke atas. Kebalikannya, aku malah terbawa jauh kedalam entah oleh apa, entah oleh siapa.

Continue reading “Di Suatu Malam Penuh Bintang”

A what

1:35 am,
November 23.

Hula!

Setelah dua bulan menghilang kemudian muncul hanya untuk meng-update cerita bersambung yang berjudul ‘Play’ aku akhirnya mau menceritakan tentang beberapa plan yang kubuat di awal tahun 2018. Jujur 2018 itu sebuah perjalanan yang lumayan panjang buatku. Aku pernah menceritakannya sebgaian di beberapa post-an ku sebelumnya. 2018 dimulai dengan aku menjalani kewajibanku sebagai mahasiswa yaitu Kuliah Kerja Nyata yang biasa disebut dengan KKN, sebuah program pengabdian masyarakat dimana beberapa mahasiswa dari beberapa jurusan dikumpulkan menjadi satu kelompok dan ditempatkan disebuah desa antah berantah untuk  membuat program kerja. Tenggat waktu yang diberikan ialah satu bulan lamanya, satu bulan penuh di bulan januari aku habiskan bersama 11 orang asing di satu rumah. Momen pergantian tahun yang sangat tidak fenomenal menurutku, aku sama sekali nggak buat bucket list atau resolusi awal tahun (karna pada dasarnya aku menganggap resolusi itu bullshit sih)

Continue reading “A what”

Play: Epilogue

Kay melihat tangannya yang berada dalam genggaman Sam. Tangan kecil Kay yang sangat pas berlindung di balik tangan lebar milik Sam. Mereka berdua tengah duduk di taman yang terletak di pusat kota. Taman tersebut tidak terlalu ramai dikunjungi meskipun musim semi sudah mulai menyapa, mungkin karena mereka berkunjung di malam hari sehingga orang-orang lebih memilih bergelung dengan selimut mereka daripada harus keluar.

Sam dan Kay sedang duduk menikmati musik yang secara random diputar dari ponsel milik Sam. Beralaskan kain usang milik Kay, mereka berdua sudah menghabiskan sandwich yang dibeli dari toko roti terdekat dan beberapa kue kering yang dibawa oleh Kay. Dua kaleng soda dan satu botol air mineral masih tersisa namun mereka tidak ada niat untuk menghabiskannya. Sebuah kencan yang tidak direncanakan terjadi ketika Sam dengan tiba-tiba muncul di depan kantor Kay dan menjemputnya.

Continue reading “Play: Epilogue”

Play: But Are We All?

#track10

 

 

Ini adalah perjalanan terlama yang pernah Kay rasakan. Setelah beberapa detik mengumpulkan kesadaran lalu seperti orang gila mondar-mandir di dalam rumah untuk mengambil barang-barang yang harus dibawanya, Kay akhirnya naik ke atas bus dan duduk di kursi penumpang menuju Kota. Beruntung hujan telah mereda, meninggalkan gerimis rintik-rintik yang membuatmu ingin kembali tidur dan bergelung di bawah selimut dan menyeruput coklat panas. Kay meninggalkan secarik kertas, sebuah pesan untuk kedua orang tuanya karena Kay tidak dapat menelpon mereka, satu karena ia tidak bisa menjelaskan atas apa yang ia lakukan, dua karena orang tuanya hanya akan memperlambat laju Kay dengan bertanya ini-itu sampai mereka merasa puas.

Kay hanya membawa tas berisi dompet, jaket, dan kunci dorm, karena memang sepertinya ia tidak akan bisa langsung kembali pulang ke rumah malam itu juga. Berkali-kali ia melihat keluar jendela, langit yang begitu menggelap dan diterangi oleh lampu-lampu jalan yang menjulang tinggi. Ini baru setengah perjalanan menuju Kota dan ponselnya menunjukkan pukul tujuh lewat tiga puluh delapan. Kay berdoa dalam hati, ia hanya bisa berharap kalau semuanya sempat, semoga.

Continue reading “Play: But Are We All?”